Hubungan diplomasi antara Indonesia dengan Jepang dimulai sejak tahun 1958. Hubungan ini terbina sangat baik di hampir semua aspek seperti ekonomi, politik, teknologi, investasi, sosial, kultur & budaya, pariwisata, dan terutama pendidikan. Khususnya dalam bidang pendidikan, Pemerintah Jepang melalui JICA (Japan International Cooperation Agency)� telah banyak membantu institusi-institusi pendidikan di Indonesia untuk dapat berkembang dan ikut bermain dalam percaturan dunia pendidikan kelas dunia.
Acara yang dihelat di JCH, Jakarta Convension Hall, 9 November 2008, ini langsung menyedot perhatian masyarakat. Tepat pukul 10.00 WIB, Indonesia-Japan Expo Robot Content 2008 (IJE Robocon) dimulai dengan diawali deville dari para peserta kontes yang terdiri dari 10 tim dari perguruan tinggi Indonesia dan 2 tim dari perguruan tinggi Jepang. Kemudian dilanjutkan acara simbolis, berupa penyerahan bendera IJE Robocon dari perwakilan jepang, Mr. Takashi Sakamoto kepada perwakilan Indonesia yang diwakili oleh Dr. Ir. Endra Pitowarno, M.Eng, salah satu dosen senior robotika PENS ITS.
Pertandingan perdana dibuka olehTOKYO-TECH-SSR(Tokyo Institute of Technology) melawan warawiri ( univ. gunadharma). Dan tokyo tech berhasil menguasai pertandingan denga skor 8-0 atas gunadarma. Dilanjutkan dengan tim New Clear dari ITS melawan Ubaya dengan timnya, Black Light Teus. Dan ITS dipukul dengan skor 0-4 untuk Black Light Teus. Peenyisihan ini terdiri dari tiga putaran pertandingan dengan menggunakan sistem point.
Hampir saja, tim G-R dari PENS tersingkir dari penyisihan saat pertandingan putaran kedua melawan TEKOM-205, STMIK Multi Data Palembang. Juara bertahan KRI ini dipukul dengan skor 8-2 untuk TEKOM-205. Namun Karena kecekatan Fatkan dan Agus, akhirnya G-R bisa lolos dari babak penyisihan dan menjadi runner up group D. Dimana merupakan salah satu group neraka, karena dihuni oleh tim-tim kuat seperti, Black Light Teus, TEKOM-205, dan G-R sendiri.
Dari hasil penyisihan, 8 tim dari 12 tim yang bertanding, akhirnya lolos dari babak penyisihan. Dilanjutkan dengan perempatfinal sampai dengan final dengan menggunakan sistem gugur. Di Perempatfinal, ada peraturan bahwa sesama tim jepang harus bertemu dahulu, yaitu TOKYO-TECH-SSR dan The Denpal Final. The Denpal Final menang tipis dengan skor 10-9 untuk TOKYO-TECH-SSR. Selain itu, PENS juga menang telak atas JOGYAKARTO, UGM dengan skor 15-3. Dari hasil ini, akhirnya membawa PENS bertemu dengan guru robotnya yaitu The Denpal Final, Kumamoto National College of Technology.
Sebelum bertanding, Endra Pitowarno, selaku head of judge mewawancarai tim dari jepang, The Denpal Final, dan berkata ini adalah pertandingan pertemuan antara guru robot dari jepang melawan muridnya dari indonesia. Dan akhirnya sang guru, harus rela dengan skor 16-0 dimenangakan oleh G-R, PENS. Memang sejak 1991, PENS dengan robot perdananya BIMA-X1, dan robot-robot juara lainya seperti B-CAK, dll telah menumbuhkan rasa percaya diri bagi PENS untuk tidak minder melawan jago-jago robot internasional seperti China, Vietnam, bahkan untuk menghadapi sang guru sendiri yaitu Jepang.
Dan akhirnya, pada pertandingan final G-R akan melawan POLBANBBOT , Politeknik Negeri Bandung setelah berhasil menyingkirkan TEKOM-205. Event ini sangat meriah dilihat dari antusias para penonton yang sangat tertarik untuk melihat robot-robot cerdas melakukan aksinya, terutama anak-anak kecil yang ingin sekali melihat robot - robot impian mereka langsung dari dekat.
Sekitar pukul 15.00 akhirnya pertandingan final dilaksanakan, dan seperti biasa, G-R dapat memangkas habis musuh dengan skor 14-4 untuk POLBANBBOT sekaligus membawa G-R, PENS sebagai juara IJE Robocon 2008. Yang mana sebelumnya sebelum final, leaderdari tim Denpal Final, Jepang telah menjogakan G-R sebagai juara pertama.
Dari hasil keseluruhan pertandingan,juara pertama diraih oleh G-R (PENS), dilanjutkan runner-up POLBANBBOT (PolBan), second runner-up The Denpal Final (Kumamoto National College of Technology). Dari kontes ini juga diberikan penghargaan Best Design dan Best Idea yang mana masing-masing di pegang oleh TOKYO-TECH-SSR (Tokyo Institute of Technology) dan JOGYAKARTO (UGM).
posting from eepis news.
Di balik IJE2008
ReplyDeleteKalau ada yang baca RULE IJE2008 (bisa baca di http://ijerobocon.eepis-its.edu) pasti bertanya-tanya mengapa tim Black Light TEUS dari UBAYA didiskualifikasi saat bertanding melawan Tim Yogyakarto dari UGM. Dan didiskualifikasi lagi pada saat melawan Tim TEKOM-205 dari STMIK MDP.
Inti peraturan lombanya : robot akan bertanding satu lawan satu untuk mematikan api (lilin) didalam arena tanding dan menyelamatkan bayi (berupa boneka), terdapat 10 lilin dan 2 boneka ... masing masing lilin dan boneka punya point tersendiri ... siapa yang mengumpulkan point terbanyak dia yang menang, tidak ada syarat harus mematikan api dari jarak tertentu, tidak ada larangan robot tidak boleh mematikan api dari posisi home.
1 hari sebelum hari H, saat sudah di Jakarta kita uji coba lapangan bersama masing2 peserta ... (Gladi Resik) setelah kita lihat robot2 peserta lainnya, kita jadi tambah yakin kalau besok kita pasti bisa menang dan masuk 3 besar.Karena rata2 robot yang mereka gunakan untuk mematikan lilin menggunakan kipas yang kecil seperti lomba di tahun2 sebelumnya sedangkan robot yang kita menggunakan kipas yang berukuran sedang, (kira2 seukuran jam dinding standard). Dengan kemampuan robot mematikan api jarak jauh, strategi kami adalah robot mulai mematikan api dari posisi home dan bersiap berjalan ke arena tengah lapangan untuk menghalangi robot lawan bermanuver... Dengan kipas sebesar itu, boneka bayi dari steroform ikut jatuh, ini juga merupakan strategi agar musuh tidak bisa mendapat poin dari boneka bayi.
Kita sudah membaca peraturan sampai lebih dari 10x untuk memastikan kalau robot kita tidak melanggar peraturan.
Masalah muncul sesudah kita melakukan uji coba lapangan, seorang panitia dari Pens ITS Dr. Ir. Endra Pitowarno M.Eng (dosen senior robotika PENS-ITS) datang menghampiri tim kita dan bicara dengan saya sebagai dosen pembimbing. Dia minta tim kita untuk mengubah strategi lomba yang kita gunakan saat itu demi menyelamatkan acaranya ...
lalu kita bilang bahwa kita tidak melanggar peraturan, dan kenapa kita harus mengubah strategi kita ?
dia bilang, dia yang punya kuasa disitu dan dana ini dari Jepang (spt tahun 1942 > antek jepang). Jadi kalau kita tetap menggunakan strategi semula maka Tim kita akan di diskualifikasi. Kita disindir juga bahwa kita juga melanggar tema pemadam api, karena selain memadamkan api, boneka bayi yang harus diselamatkan malah jatuh. Toh Pada saat pertandingan, tim PENS malah juga hanya berjalan di arena tengah sambil memadamkan api, dan menjatuhkan boneka bayi sebagai strategi untuk mengalahkan tim Yogyakarto UGM.
Jadinya pada hari itu dibuatlah peraturan baru, kami hanya boleh mulai meniup lilin setelah keluar dari lorong home (yang tidak diumumkan ke peserta lain) ...
tentu saja dalam satu hari, tim kita tidak mudah untuk memodifikasi robot dan membuat strategi baru untuk melawan musuh ...
Saat bertanding melawan UGM, robot kita sudah pada posisi yang diperbolehkan, hanya saja setelah meniup api, robot kita mundur sehingga setengah badan masuk lorong home, didiskualifikasi deh... Pembimbing Tim Yogyakarto dari UGM menanyakan kenapa kita didiskualifikasi, setelah kita jawab bahwa sebagian badan robot berada di lorong home, dia bilang khan tidak ada aturannya, dilanjutkan dengan geleng-geleng.
Ketika melawan STMIK MDP, kita didiskualifikasi karena kita mengajukan "GIVE UP" pada saat robot masih berjalan. Dosen Senior Robotika PENS-ITS tersebut mengatakan anda tidak boleh mengajukan "GIVE UP" saat robot anda tidak error. Memang dosen senior ini, gimana tidak disebut senior wong DIA BISA MENGETAHUI ERROR TIDAKNYA ROBOT MESKIPUN BUKAN sebagai PROGRAMMER robot tersebut. Tim member sekaligus Programmer Black Light TEUS melihat arah putar kipas sudah tidak sesuai dengan apa yang dia program, oleh karena itu kita minta "GIVE UP" karena error. Kalau dibaca dari rule IJE2008, tidak ada ketentuan syarat robot harus error dulu baru mengajukan "GIVE UP". Dan hebatnya error tidaknya dilihat oleh juri sebagai dosen senior PENS-ITS. (Ini yang paling menggelikan) Ya proteslah kita. Pada pertandingan sebelumnya, dia mengatakan untuk menghidari penalti, tim bisa mengajukan "GIVE UP". Terakhir Bpk Endra Pitowarno bilang maka dari itu setiap peraturan ada pasal mengenai peserta yang tidak mengikuti arahan wasit akan didiskualifikasi.
Kita kecewa sekali sama juri dan Panitia lomba dari pens ITS ...
jujur aja robot buatan Pens ITS ini terkenal sering menjadi juara kontes robot di Indonesia ... tapi kalau caranya seperti ini hmmm ...
Saran bagi teman-teman robotika yang menjadi tim tangguh di kontes robot, bersiap saja menyiapkan HATI YANG LAPANG LEGOWO atas aksi-aksi yang dilakukan Bpk Endra Pitowarno sebagai juri. Bisa maju tidak ya Robotika Indonesia ??? Peraturan tidak disiapkan dengan matang, ada celah utk dimanfaatkan peserta kontes robot kemudian merasa tidak sesuai perkiraan jadi main AROGAN seperti itu mengubah aturan seperti aturan lomba makan krupuk.
trimakasih kepada mas hendi yang telah posting komentar ke blog saya.
ReplyDeletedan terimakasih juga telah memerikan kritik dan saran. untuk menghindari kesalahan posting anda akan saya forward ke Pak Endra Ptowarno agar menjadi bahan koreksi bersama,sehingga tidak terjadi kesalah pahaman.
Untuk Pak Hendi W yang terhormat
ReplyDeleteDalam hal ini saya coba meluruskan cerita sebenarnya agar tidak menjadi fitnah.
Mohon maaf sebelumnya,saya merupakan mahasiswa PENS yang baru tahu kabar ini. saya juga sebelumnya coba download rule ije tapi tidak bisa, guna mengetahui rule yang lebih lengkap.
Bukannya saya mau membela PENS ato pak Endra Pitowarno. Tetapi menurut info dari sumber terpecaya yang saya dapatkan. Alasan mengapa beliau (Pak Endra) menghampiri anda saat uji coba dan meminta mengganti strategi bukanlah keputusan sepihak saja melainkan merupakan keputusan dari pihak jepang selaku penyelenggara dan tim-tim yang ikut pada pertandingan tersebut.
Karena mereka menganggap bahwa jika mematikan lilinnya cukup dari posisi home saja, itu dapat merusak citra kejuaraan robot itu sendiri. Karena lebih baik menggunakan kipas angin biasa saja yang ditempatkan pada home kemudian kipas tersebut dapat berputar 180 derajat (kiri-kanan) sehingga tidak perlu susah-susah MEMBUAT ROBOT semua lilin dapat mati. trus untuk apa sensor-seensor yang anda pasang pada robot??? Toh juga robot dari tim anda memiliki tinggi jauh melebihi robot tim lain serta TIDAK memiliki penjepit yang berfungsi untuk menyelamatkan boneka.
Apakah ini bisa disebut tim tangguh ???walaupun memang tidak melanggar peraturan.
Betul yang anda katakan, "ini memang bukan lomba makan krupuk" jadi robot yang di buat juga jangan cuma bisa asal tiup saja, mirip konsep kipas angin biasa. Robot tersebut juga harus mempunyai kemampuan mencari lilin dan menyelamatkan boneka.
Oleh karena itulah, pak Endra selaku juri pada ije tersebut menjadi berkewajiban memberi tahu tim anda saat uji coba untuk mengganti strategi. Masak nanti yang menang ije adalah robot yang hanya meniup dari home saja, jadi tidak ada kesannya sebagai kejuaraan lomba robot
malah jadi mirip lomba tiup lilin. Toh juga pak Endra sudah berbaik hati untuk memberi tahu agar mengganti strategi anda agar lebih berkesan.
Demikian komentar dari saya, semoga menjadi bahan koreksi.
:) :) :)
@anonim
ReplyDeleteterimaksih atas tanggapa dari "anonim", setidaknya anda meninggalkan alamat mail atau alamat web anda, sebagai bahan koreksi.
saya harap untuk pak Hendy bisa sedikit menmbahkan tanggapan dari saudara "anonim" agar menjadi bahan koreksi bersama.
Saya berkomentar lagi karena mas Tiyo si empunya blogspot ini meminta saya memberikan tanggapan dari sdr anonim.
ReplyDelete"Karena mereka menganggap bahwa jika mematikan lilinnya cukup dari posisi home saja, itu dapat merusak citra kejuaraan robot itu sendiri."
Tanggapan saya: pada workshop KRCI2009 yg diadakan pada sebuah hotel, mhs UBAYA mendengarkan perkataan Pak Endra bahwa nantinya mungkin ada robot yang dari home sudah meniup lilin,NAMUN kata beliau juga dengan sedikit senyum, tapi tidak mungkin bisa mematikan lilin dengan posisi terjauh, (poin5 dan poin3 mungkin maksudnya), so strategi ini sudah terbaca dari awal. Kalau memang tidak boleh, pasti sudah dikatakan juga pada workshop tsb bahwa memang tidak boleh.
Kipas berputar 180 derajat (kiri-kanan), lilin dapat mati.
Tanggapan saya: ada perhitungan tentang sudut tiup sehingga menghasilkan gerakan angin yang bisa mematikan lilin. Lilin khan berada pada balik dinding, kalau langsung dengan kekuatan kipas besar pun lilin tidak akan mati. Sehingga kami memakai rotator yang menggerakkan kipas pada sb x,y dan juga sb z. Jadi ditembakkan angin ke arah lorong, sehingga ketika memantul angin dapat meniup lilin hingga mati.
TIDAK memiliki penjepit yang berfungsi untuk menyelamatkan boneka.
Tanggapan saya: di rule memang tidak ada peraturan kita harus membayangkan seperti situasi sebenarnya, dimana boneka bayi harus diselamatkan. Karena kalau lihat situasi sebenarnya, ya robot-robot ini harusnya bekerjasama untuk menyelamatkan, bukan bertarung. Sehingga kami memilih strategi supaya lawan tidak dapat mengambil bayi. Sensor kami tadinya digunakan untuk berjalan menghalangi manuver lawan,lah karena rawan pinalti ya tidak berjalan.
Mungkin sdr anonim kenal sama tim beroda PENS KRCI2008? Ingat tidak waktu KRCI2008 ada voting tentang pasang atau tidak perekat pada uneven floor? Knp itu terjadi? Karena saat di RegIV (SBY) sesuai rule uneven floor tidak diberikan perekat, jadi dibiarkan bisa bergeser kalau kena robot berjalan. Namun hari pertama datang, lihat di lapangan uneven floor diberikan perekat, kontan saja waktu itu, kalau saya tidak salah tim beroda KRCI2008 dari PENS menanyakan hal tsb, juri yang berada pada TM tsb mengatakan SEMANGAT dari pemberian uneven floor adalah untuk dapat merusak perhitungan rotary encoder, sehingga dengan dikasih perekat pun SEMANGAT itu sudah terpenuhi. Harusnya tidak perlu voting, tapi kita harus kembali pada rule awal, namun akhirnya voting juga.
Ya biarlah yang sudah terjadi. Saya juga berpikir dan mengalami kebingungan juga andai saja saya di posisi Pak Endra dimana ada hal yang luput, ganti rule atau bagaimana ya. Tapi semoga saya gak pernah membuat rule, bayangkan saja kalau kejadian TM KRCI2008 terjadi dimana yang bertanya (atau bisa dibilang protes lah) tim dari PENS. Weleh-weleh... Jurinya aja akhirnya memberikan voting.
Oke, rule juga sudah diperbaiki untuk dapat membuat robot lebih cerdas, dan saya mohon maaf sebesar-besarnya pada semua akademisi PENS dan rekan-rekan yang lain, (teman saya juga banyak dosen PENS), dan mohon untuk mas Tiyo untuk tidak meminta tanggapan lagi dari saya. Nanti terus kepanjangan mas.
Hendi W
Saya adalah anonim tersebut diatas !!!
ReplyDeleteSebenarnya yang membuat saya mengirim komentar diatas adalah karena dipicu oleh pernyataan anda yang menganggap "pergantian rule ini dan itu seperti lomba makan krupuk" adalah aksi2 yang dilakukan oleh Pak Endra selaku juri sekaligus orang dari PENS. Karena tujuan saya adalah ingin meluruskan bahwa pergantian itu bukan karena aksi pak Endra semata, melainkan hasil dari Voting
Tetapi untunglah dari pernyataan terbaru anda. Anda telah mengakui bahwa perubahan rule adalah hasil voting. Sehingga saya tahu bahwa mungkin saat anda memberikan komentar yang pertama adalah sedang dalam keadaan emosi.
saya juga mohon maaf kepada pak hendi kalau ada salah2 kata dari saya yang kurang berkenan.
Mungkin itu saja dari saya .......
:) :) :)
GOBLOK UBAYA IKU ANCENE...
ReplyDeleteWES KALAH SEK NGELES AE...
KAKEAN TEORI....KARO CANGKEM
KRCI YO KRCI
IJE YO IJE.....
MESTI PROTES